PENGARUH WATER BALLAST TERHADAP BIOTA LAUT


Pencemaran atau polusi adalah suatu kondisi yang berubah dari bentuk asal menjadi keadaan yang lebih buruk. Pergeseran tatanan bentuk ini dapat terjadi sebagai akibat dari masuknya bahan-bahan  pencemar atau polutan. Polutan  mempunyai  daya racun yang dapat membuat keadaan lebih buruk dari kondisi aslinya sehingga memicu terjadinya pencemaran (Palar,1994). Pada wilayah pelabuhan umumnya didominasi oleh tiga kategori penyebab pencemaran, salah satunya ialah akibat pembuangan air balas (Balwa, A.F. dkk, 2016). Menurut Siburan R., dkk (2017), pembuangan air balas pada perjalanan kapal dapat menyebabkan penurunan kualitas air laut karena pembuangan air balas terkadang masih mengandung minyak dan oli akibat bocoran serta tumpahan saat pembongkaran muatan pada kapal.

Perjalanan kapal dengan water ballast telah mengakibatkan transfer organisme air tawar dan laut secara besar-besaran melewati batas geografis serta dapat menghambat proses penyebaran dan mutasi gen pada organisme lokal (McGee et al. 2006; Perrins et al. 2006; Alekseev et al. 2010). Water ballast diakui sebagai masalah lingkungan yang serius karena berkaitan erat dengan adaptasi organisme non-pribumi. Dalam beberapa kasus yang terdokumentasi, organisme yang bertahan dalam water ballast berhasil membentuk satu populasi dan mendominasi pada lingkungan yang baru sehingga mengakibatkan dampak ekologis yang parah (Gregg et al. 2007). Hal ini terjadi karena mikroorganisme laut ataupun air tawar yang ikut terbawa dan tertukar melalui tangki balas kapal dapat bertahan hidup pada perairan yang baru, namun biota tersebut akan berubah dan cenderung bersifat predator sehingga bisa menyebabkan kerusakan pada rantai makanan dan lingkungan perairan yang baru (Djau, M.S., 2015).

Pembuangan air balas kapal di Negara Amerika Serikat pada perairan air tawar Great Lakes telah menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem di sana. Setidaknya ditemukan paling sedikit 139 spesies asing dan ikan ruffee dari Eropa menjadi spesies yang berbahaya akibat air balas kapal (Mills et al., 1994). Selain itu, ikan tubenose goby juga mendominasi dan menjadi invasif di dasar danau Erie bagian barat akibat keluaran air balas kapal. Ikan ini telah memusnahkan ikan endemis di wilayah tersebut yaitu ikan darter (Etheostoma spp.), madtom (Noturus spp.) dan sculpin (Cottus spp) (Kocovsky et al., 2011). Dampak pembuangan air balas dari kapal niaga juga ditemukan di perairan Asia seperti di perairan Taiwan barat dimana ikan predator Scieanops occellatus-dari pantai Atlantik Amerika dapat bertahan hidup dengan baik di wilayah tersebut (Liao et al., 2010).


                                            (a)                                              (b)                                                  (c)
Gambar 1. (a) alga Halimeda macroloba (Nono, D.R. dkk, 2014), (b) kerang Geloina (Dwiono, S.A., 2003), (c) larva Aedes (Astuti, E.P. dkk, N.R., 2017)

Pelepasan water ballast  ini dapat menyebabkan organisme non-asli masuk ke pelabuhan pembuangan. Spesies ini dikenal dengan invasive alien species (IAS) atau bisa juga disebut sebagai eksotis spesies, spesies asing, dan spesies non-adat. Biasanya sangat sedikit organisme yang mampu bertahan di lingkungan baru karena suhu, makanan, dan salinitas (kadar garam) kurang optimal. Namun, beberapa yang bertahan di lingkungannya yang baru dapat membentuk populasi sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan ekologis dan ekonomi. Populasi spesies dapat tumbuh sangat cepat apabila tidak ada predator alami pada lingkungan tersebut. Pada akhirnya, spesies/organisme non-asli dapat menggantikan organisme asli dengan memangsa mereka atau mengalahkan spesies asli untuk mendapat ruang makanan dan habitat. Sedangkan kerusakan ekonomi dapat terjadi ketika spesies invasif menggantikan spesies yang dipanen untuk keperluan ekonomi misal untuk dijual atau dimakan (Satir, 2014).

Selain menimbulkan transfer organisme secara besar-besaran, water ballast juga dapat mengakibatkan pencemaran logam berat pada lingkungan laut (Balwa, A.F. dkk, 2016). Logam berat tersebut bersifat racun bagi organisme perairan dan dapat terakumulasi  dalam  tubuh  ikan,  udang, kerang  dan  hasil  laut lainnya (Rudiyanti, 2009). Logam berat di perairan tidak akan menjadi  masalah   apabila   jumlahnya berada  di  bawah  ambang  batas  toksik (Ambariyanto, 2011a). Hal ini dikarenakan hingga batas tertentu logam berat diperlukan organisme untuk pertumbuhan sebagai trace  element  essential.  Namun, logam  berat  akan  bersifat  racun  apabila melebihi   batas   tersebut  dan dapat menyebabkan  kerusakan  organ  tubuh. Eryati (2008) menyatakan   meskipun tubuh  organisme  menerima  logam  berat dalam jumlah sedikit, apabila hal ini berlangsung terus menerus dan dalam waktu  lama  maka  akan  menyebabkan penumpukan  logam  berat  dan  terjadilah akumulasi  dalam  tubuh  organisme. 

Salah  satu  contoh  logam  berat yang  berbahaya  bagi  organisme  laut adalah  Kadmium  (Cd) dan timbal (Pb). Penggunaan Kadmium pada kapal berfungsi sebagai salah satu cara mencegah korosi laut terhadap besi dan baja yang digunakan kapal (Balwa, A.F. dkk, 2016). Logam berat Pb dan Cd tersebut dapat terakumulasi ke dalam tubuh udang (Crustaceae) lewat permukaan tubuh dengan cara difusi dari lingkungan perairan (Conell dan Miller, 1995; Rahman, 2005).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Qulub pada tahun 2013 dengan metode Spektrofotometri  Serapan  Atom (SSA) pada  kapal  barang  dan  penumpang  yang  bersandar  di sekitar pelabuhan Tanjung Emas Semarang  menunjukkan  bahwa dari 30  sampel air balas kapal  yang diuji, kadar paling  rendah  sebesar  0,009 mg/l, kadar paling tinggi  sebesar  0,133  mg/l  dan  rata-rata kadar kadmium (Cd) yaitu 0,046 mg/l. Kadmium yang ikut masuk ke dalam tubuh biota laut ini akan terakumulasi terus menerus dan bisa melebihi konsentrasinya di air. Kadmium tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia. Oleh karena itu endapan kadmium yang terdapat dalam tangki air balas akibat  proses ballasting  dapat  mengakibatkan pencemaran lokal dan berpotensi berbahaya bagi biota perairan serta kesehatan masyarakat yang mengonsumsi hasil biota laut dari perairan tersebut (Balwa, A.F.dkk, 2016).

Berikut adalah gambar mikroanatomi insang ikan yang sudah tercemar.

                                                                                   (a)                                        (b)
Gambar 2. Potongan melintang struktur mikroanatomi insang ikan nila
Keterangan: (a) kondisi mikroanatomi insang ikan normal, (b) kondisi mikroanatomi insang tidak normal (Setyawan, N., 2013)

Pembuangan air ballast juga berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang di Indonesia. Terumbu karang merupakan ekosistem yang memiliki nilai penting baik dari segi  sosial,  ekonomi  dan  budaya.  Terumbu karang berfungsi sebagai  tempat tinggal sementara  atau  tetap  (habitat),  tempat mencari makan (feeding ground), berpijah (spawning ground), daerah   asuhan (nursery  ground) dan tempat berlindung bagi biota-biota  laut (shelter   area) (Suharsono,  2004). Dari  hasil  penelitian  Eryati  (2008) mengenai  akumulasi  logam  berat  dan pengaruhnya  terhadap  morfologi  jaringan lunak  karang, diketahui bahwa akumulasi logam paling banyak ditemukan pada tepi luar dari jaringan lunak bagian tengah dan dalam karang Porites. Disamping  itu,  karang  memiliki sensitifitas yang tinggi, khususnya zooxanthellae yang beraosiasi di dalamnya terhadap perubahan lingkungan (Ambariyanto,  2011b;  Ambariyanto  dan Yulianto, 2011). Pengaruh  logam  berat terhadap  karang  juga  diperlihatkan  dari adanya  reaksi  awal  pada karang yang tersemar berupa penarikan tentakel ke dalam koralit dan kemudian pengeluaran  mukus  yang  menyelubungi karang (Wicaksono, D.B. and Yulianto, B., 2013). Secara  umum  pengaruh  logam berat  terhadap  karang  dapat  dibagi menjadi  dua  yaitu  pengaruh  yang  tidak menyebabkan  kematian  (sublethal)  dan yang  menyebabkan  kematian  (lethal) (Supriharyono,  2002).


Gambar 3. Sampel terumbu karang yang tercemar logam berat 
(Susiati, H., Susilo, Y.S.B. and Menri, Y., 2008)

Susiati, H., Susilo, Y.S.B. and Menri, Y. (2008) menyatakan rusaknya sistem kehidupan karang akan menyebabkan populasi ikan dan hewan lain (jenis-jenis moluska seperti kerang, siput, teripang, dan sebagainya) makin berkurang, karena terumbu karang merupakan tempat pembiakan ikan dan menjadi tempat berlindung serta mencari makan baik bagi pemakan plankton maupun ikan predator.

Pengaruh negatif lain dari pembuangan water ballast yang diangkut baik oleh kapal penumpang maupun oleh kapal barang terhadap ekosistem serta biota laut, yaitu kemungkinan meluasnya sebaran spesies-spesies mikroalga berbahaya dari satu perairan ke perairan lainnya. Gollasch et al. (2000), menyelidiki kemampuan bertahan phytoplankton dan zooplankton (non-indigenous species) dalam 23 hari pelayaran kapal kontainer dari Singapura, Colombo, dan Bremerhaven. Hasil penelitian menunjukkan masih dapat ditemukan sembilan spesies Dinoflagellata, termasuk yang berbahaya seperti Dinophysis, Gonyaulax, dan Oscillatoria. Hamer et al. (2001) juga menyelidiki potensi sisa kista dinoflagellate pada tangki ballast di pelabuhan Inggris dan Welsh. Penelitian menunjukkan ditemukan sejumlah 69% dari sampel, 48 spesies teridentifikasi yang mewakili 20 marga. Menurut Hallegraeff (1993), meluasnya sebaran Dinoflagellata dapat disebabkan oleh transportasi kista yang terbawa oleh kapal dalam air balas. Melalui mekanisme ini perairan yang pada awalnya bebas dari mikroalga beracun dapat terkontaminasi dan akan menimbulkan dampak yang besar jika berlangsung secara terus menerus dari satu tempat ke tempat lainnya.


Gambar 4. Alexandrium catenella (plankton dinoflagellata
(Drake, R., Vogl, A.W. and Mitchell, A.W., 2009)



DAFTAR PUSTAKA

Astuti, E.P., Riyadhi, A. and Ahmadi, N.R., 2017. EFEKTIVITAS MINYAK JARAK PAGAR    SEBAGAI LARVASIDA, ANTI-OVIPOSISI DAN OVISIDA TERHADAP LARVA NYAMUK. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 22(1), pp.44-53.
Ambariyanto.    2011a.    Biomonitoring Pencemaran  Perairan.  ISBN  978 979097146 2. BP Undip Semarang. 120 hal.
Balwa, A.F., Nurjazuli, N. and Joko, T., 2016. Studi Beban Pencemaran Logam Berat Kadmium (Cd) pada Ballast Water Kapal Barang dan Kapal Penumpang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 4(4), pp.810-818.
Djau, M.S., 2015. STRATEGI PENGELOLAAN ADMINISTRATIF DARI DAMPAK “BALLAST WATER” DI DAERAH BERKEMBANG UNTUK KEBERLANJUTAN KEHIDUPAN MASYARAKAT PESISIR. Publik (Jurnal Ilmu Administrasi), 4(1), pp.29-39.
Drake, R., Vogl, A.W. and Mitchell, A.W., 2009. Gray's Anatomy for Students E-Book. Elsevier Health Sciences.
Dwiono, S.A., 2003. Pengenalan kerang mangrove Geloina erosa dan Geloina expansa. Oceana, 28(2), pp.31-38.
Eames I. Landeryou M. Greig A. Snellings J. 2008. Continuous Flushing of Contaminants From Ballast Water Tanks. Elsevier. Marine Pollution Buletin 56:250-260.
Eryati,  R.  2008.  Akumulasi  Logam  Berat dan    Pengaruhnya Terhadap Morfologi Jaringan Lunak Karang di Perairan  Tanjung  Jumlai, Panajam Paser  Utara,  Kalimantan  timur. Tesis. Program pasca Sarjana IPB. Bogor. 136 hal.
Gollasch, S., Lenz, J., Dammer, M. and Andres, H.G., 2000. Survival of tropical ballast water organisms during a cruise from the Indian Ocean to the North Sea. Journal of Plankton Research, 22(5), pp.923-937.
Gregg M D. Hallegraeff G M. 2007. Efficacy of Three Commercially Available Ballast Water Biocides Against Vegetative Microalgae, Dinoflagellate Cysts and Bacteria. Elsevier. Harmful
Algae 6:567–584.
Hamer, J.P., Lucas, I.A.N. and McCollln, T.A., 2001. Harmful dinoflagellate resting cysts in ships' ballast tank sediments: potential for introduction into English and Welsh waters. Phycologia, 40(3), pp.246-255.
Hellegraeff, G.M. 1993. A review-of harmful algal blooms and their apparent global increase. Phycologia 32:79-99.
Kocovsky, P.M., Tallman, J.A., Jude, D.J., Murphy, D.M., Brown, J.E. and Stepien, C.A., 2011. Expansion of tubenose gobies Proterorhinus semilunaris into western Lake Erie and potential effects on native species. Biological Invasions, 13(12), pp.2775-2784.
Liao, Y.C., Chen, L.S. and Shao, K.T., 2010. The predatory Atlantic red drum, Sciaenops ocellatus, has invaded the western Taiwanese coast in the Indo-West Pacific. Biological Invasions, 12(7), pp.1961-1965.
McGee S. Piorkowski R. Ruiz G. 2006. Analysis of Recent Vessel Arrivals and Ballast Water Discharge in Alaska: Toward Assessing Ship-Mediated Invasion Risk. Elsevier. Marine Pollution Buletin 52:1634-1645.
Mills, E.L., Leach, J.H., Carlton, J.T. and Secor, C.L., 1994. Exotic species and the integrity of the Great Lakes. BioScience, 44(10), pp.666-676.
Nono, D.R., Boneka, F.B. and Gerung, G.S., 2014. Siput Gastropoda Pada Alga Makro Di Tanjung Arakan dan Pantai Pulau Nain Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis.
Rudiyanti, S. 2009. Biokonsentrasi Kerang Darah  (Anadara   granosa   Linn) Terhadap  Logam  Berat  Cadmium (Cd) yang Terkandung dalam Media Pemeliharaan  yang  Berasal  dari Perairan    Kaliwungu,    Kendal. Fakultas   Perikanan   dan   Ilmu Kelautan  UNDIP.  Semarang.  Hal 184-195.
Satir, T., 2014. Ballast water treatment systems: design, regulations, and selection under the choice varying priorities. Environmental Science and Pollution Research, 21(18), pp.10686-10695.
Setyawan, N., 2013. Gambaran Mikroanatomi pada Insang Ikan Sebagai Indikator Pencemaran Logam Berat di Perairan Kaligarang Semarang (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang).
Siburian, R., Simatupang, L. and Bukit, M., 2017. Analisis Kualitas Perairan Laut Terhadap Aktivitas Di Lingkungan Pelabuhan Waingapu-Alor Sumba Timur. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 23(1), pp.225-232.
Suharsono. 2004. Jenis-Jenis Karang yang Umum   dijumpai   di   Perairan Indonesia.  P3O-LIPI,  Jakarta.  116 hal.
Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah  Pesisir  Tropis.  Jakarta: Gramedia.
Susiati, H., Susilo, Y.S.B. and Menri, Y., 2008. Kandungan Logam Berat (Cu, Cr, Zn, dan Fe) pada Terumbukarang di Perairan Pulau Panjang, Jepara. Jurnal Pengembangan Energi Nuklir, 10(1).
Wicaksono, D.B. and Yulianto, B., 2013. Pengaruh Logam Berat Terhadap Karang. Journal of Marine Research, 2(1), pp.161-166.

Komentar